Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Menghibur Selera Pasar

Posted On // Leave a Comment

Orientasi materealistis semakin tampak jelas menjangkiti masyarakat. Orang indonesia kini, jauh meninggalkan tata masyarakat agraris-tradisional menuju masyarakat industri modern. Tingkat konsumsi tinggi dan pengukuran harkat manusia berdasar kekayaan materi mendorong generasi muda untuk tak kenal lelah mencari keuntungan.

Kita sadari atau tidak, keadaan ini mempengaruhi kehidupan kesenian kita.

Maka jangan salahkan para seniman yang "melacur", menciptakan karya berdasar selera pasar. Karena generasi muda sudah sulit mengapresiasi tontonan tradisi seperti wayang, ludruk, dll. Suka atau tidak maka pengkaryaanpun harus berdamai dengan pasar.

Coba sekarang kita tengok telivisi sebentar saja. Lanjutkan dengan mengganti chanel satu persatu, dari acara satu ke yang lain. Apa yang anda temukan? Joged....

Maaf, bukan maksud merendahkan atau meremehkan tim kreatif (juga penontonnya). Tapi dengan keseragaman acara di hampir semua stasiun televisi dengan kemasan yang "simple", pokok e joged kalau kata lirik lagu, dan celakanya yang paling laku. Ini mengindikasikan bahwa penonton (masyarakat) hari ini hanya butuh hiburan "enteng" semata. Hampir tidak ada lagi tontonan yang mengajak kita berfikir apalagi bercermin.

Tetapi sekali lagi, analisa ini tidak bisa di-generalisasi. Seperti sebuah anekdot ".... televisi adalah furnitur".

Lalu bagaimana di daerah saudara? Masih adakah penikmat kesenian?

[Read more]

Apa Kabar Endonesa (save KPK)

Posted On // Leave a Comment

Langit mendung di senin pagi, yang telah biasa jadi hari paling dibenci di seantero jagad raya ini. Iya, ini tentang rutinitas selepas libur akhir pekan. Tubuh dan pikiran masih berat untuk diajak menikmati aktifitas.

Ah... Tetapi hidup masih harus terus berjalan. Mari membakar semangat.

Oh ya, apakah di tempatmu berada sekarang, surat kabar, televisi, radio masih sibuk mewartakan berita yang itu? Ya, seperti halnya di medsoc yang ber-hastag #saveKPK ? Lalu siapa yang kalian dukung? Seandainya saja semua berjalan di reel nya masing-masing, semua sesuai dengan porsinya, mungkin tidak jadi begini. Tidak perlu "rangrang" menggruduk dan bikin aksi yang bisa jadi akan lebih besar lagi jikalau....

Ah, sudahlah! Mungkin ada baiknya kita tunggu saja. Karena hujan opini masih deras. Tidak baik menyimpulkan sesuatu ketika pandangan terhalang kabut sedang logika masih tercampur amarah.

Semoga kebenaran tetap tegak.

[Read more]

Dreadlock Rasta

Posted On // Leave a Comment

Indonesia sedang menggandrungi musik reggae. di mana-mana orang memutar musik yang konon berasal dari Jamaika. Bahkan style para pengusung musik ini pun menjadi mode dadakan dikalangan anak muda. Ya, Rambut Gimbal yang menjadi ciri khas Bob Marleysebagai pembawa genre reggae mendunia pun diadopsi oleh para penggemarnya.

Parahnya, banyak dari mereka yang hanya ikut-ikutan saja. Bahwa sebenarnya tidak benar-benar mengerti akan asal-usul atau mungkin filosofi dibalik Rambut Gimbal.

Agar kita tidak dicap sebagai pemilik rambut gimbal atau pecinta Reggae gadungan, ada kalanya menyimak ulasan berikut nich gan….

Lepas dari perawatan rambut, secara alami rambut akan menyatu bersama membentuk knot dan kusut atau disebut dreadlocks. Dreadlock merupakan fenomena universal. Spiritualist dari semua kepercayaan dengan latar belakangnya memasukan kedalam jalur ajarannya dengan tidak memperdulikan penampilan fisik dari individu penganut kepercayaan tersebut. Para pendatang terkadang tidak menyisir dan memotong rambutnya atau bahkan sebaliknya dengan menutup rambutnya. Disinilah bagaimana dreadlocks lahir.

Orang Nazaret adalah masyarakat yang paling mengerti dalam mengembangkan dreadlocks. Di timur, Yogis, Gyanis dan Tapasvis dari semua sekte adalah pembawa dreadlocks yang terkenal.

Dreadlocks kemudian secara universal merupakan simbol spiritual dengan pengertian bahwa penampilan fisik tidak penting. Dreadlocks tidak hanya sekedar simbol pernyataan yang tidak memperdulikan penampilan fisik individu. Tradisi orang barat dan timur percaya bahwa energi jasmani, mental dan spiritual keluar melalui bagian atas tubuh kita, melalui kepala dan rambut; yang dapat menjaga seseorang menjadi lebih kuat dan sehat.

Contoh dari tradisi masyarakat barat adalah cerita kitab suci “Samson” yang tak terkalahkan, namun ketika Delilah memotong “7 locks” dari rambutnya, pada akhirnya Samson dapat terkalahkan. Pada cerita India klasik, para pelajar rohani spiritual yang dengan kepercayaannya pada kitab suci injil, mereka menjadikan dreadlocks sebagai pemecah kesombongan dari penampilan fisik antar mereka dan menolong mereka dalam perkembangan kekuatan jasmani, mental dan spiritual.

Ketika dunia masuk kedalam era industri, dreadlocks sudah dapat dilihat dimana-mana selain India. Pada abad ke 20, pergerakan sosial-agama bermulai di Harlem New York oleh Marcus Garvey, menemukan antusiasisme dreadlocks diantara populasi masyarakat negro di Jamaica. Group ini mengambil pengaruh dari 3 sumber utama, yaitu: Perjanjian Lama dan Baru dari Alkitab, Budaya Suku Afrika dan Budaya Hindu yang dapat menembus serangan budaya di Hindia barat.

Pengikut dreadlocks menyebut diri mereka “Dreads”, menandakan mereka mempunyai dread, takut dan respek kepada Tuhan. Dengan referensi yang berasal dari agama Hindu dan Kristen. Rambut “dread” yang tumbuh matted locks (kusut dan terbentuk knot) kemudian oleh masyarakat dunia disebut “Dreadlocks” – model rambut para dread.

Perkembangan selanjutnya, para dread lebih fokus kepada Kaisar Ethiopia Ras Tafari, Haile Selassie dan melalui dialah muncul penganut rastafari, “Rastafarians”. Di awal 1900-an, dreadlocks diambil alih oleh penganut rastafari sebagai tambahan terhadap fungsi asli agama dan arti pentingnya spiritual sebagai simbol potensi sosial yang baik. Saat ini dreadlocks merupakan hal yang sungguh-sungguh spiritual, natural dan supernatural power dan sebagai pernyataan anti kekerasan, keselarasan, kebersamaan dan dapat saling bersosialisasi serta solidaritas antar sesama tanpa menekan minoritas.

Selain Bob Marley dan Jamaika, rambut gimbal atau lazim disebut “dreadlocks” menjadi titik perhatian dalam fenomena reggae. Saat ini dreadlock selalu diidentikkan dengan musik reggae, sehingga secara kaprah orang menganggap bahwa para pemusik reggae yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (locks) itu. Padahal jauh sebelum menjadi gaya, rambut gimbal telah menyusuri sejarah panjang.

Konon, rambut gimbal sudah dikenal sejak tahun 2500 SM. Sosok Tutankhamen, seorang fir’aun dari masa Mesir Kuno, digambarkan memelihara rambut gimbal. Demikian juga Dewa Shiwa dalam agama Hindu. Secara kultural, sejak beratus tahun yang lalu banyak suku asli di Afrika, Australia dan New Guinea yang dikenal dengan rambut gimbalnya. Di daerah Dieng, Wonosobo hingga kini masih tersisa adat memelihara rambut gimbal para balita sebagai ungkapan spiritualitas tradisional.

Membiarkan rambut tumbuh memanjang tanpa perawatan, sehingga akhirnya saling membelit membentuk gimbal, memang telah menjadi bagian praktek gerakan-gerakan spiritualitas di kebudayaan Barat maupun Timur. Kaum Nazarit di Barat, dan para penganut Yogi, Gyani dan Tapasvi dari segala sekte di India, memiliki rambut gimbal yang dimaksudkan sebagai pengingkaran pada penampilan fisik yang fana, menjadi bagian dari jalan spiritual yang mereka tempuh. Selain itu ada kepercayaan bahwa rambut gimbal membantu meningkatkan daya tahan tubuh, kekuatan mental-spiritual dan supernatural. Keyakinan tersebut dilatari kepercayaan bahwa energi mental dan spiritual manusia keluar melalui ubun-ubun dan rambut, sehingga ketika rambut terkunci belitan maka energi itu akan tertahan dalam tubuh.

Seiring dimulainya masa industrial pada abad ke-19, rambut gimbal mulai sulit diketemukan di daerah Barat. Sampai ketika pada tahun 1914 Marcus Garvey memperkenalkan gerakan religi dan penyadaran identitas kulit hitam lewat UNIA, aspek spiritualitas rambut gimbal dalam agama Hindu dan kaum tribal Afrika diadopsi oleh pengikut gerakan ini. Mereka menyebut diri sebagai kaum “Dread” untuk menyatakan bahwa mereka memiliki rasa gentar dan hormat (dread) pada Tuhan. Rambut gimbal para Dread iniah yang memunculkan istilah dreadlocks—tatanan rambut para Dread. Saat Rastafarianisme menjadi religi yang dikukuhi kelompok ini pada tahun 1930-an, dreadlocks juga menjelma menjadi simbolisasi sosial Rasta (pengikut ajaran Rastafari).

Simbolisasi ini kental terlihat ketika pada tahun 1930-an Jamaika mengalami gejolak sosial dan politik. Kelompok Rasta merasa tidak puas dengan kondisi sosial dan pemerintah yang ada, lantas membentuk masyarakat tersendiri yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan diantara semak belukar. Mereka memiliki tatanan nilai dan praktek keagamaan tersendiri, termasuk memelihara rambut gimbal. Dreadlocks juga mereka praktekkan sebagai pembeda dari para “baldhead” (sebutan untuk orang kulit putih berambut pirang), yang mereka golongkan sebagai kaum Babylon—istilah untuk penguasa penindas. Pertengahan tahun 1960-an perkemahan kelompok Rasta ditutup dan mereka dipindahkan ke daerah Kingston, seperti di kota Trench Town dan Greenwich, tempat dimana musik reggae lahir pada tahun 1968.

Ketika musik reggae memasuki arus besar musik dunia pada akhir tahun 1970-an, tak pelak lagi sosok Bob Marley dan rambut gimbalnya menjadi ikon baru yang dipuja-puja. Dreadlock dengan segera menjadi sebuah trend baru dalam tata rambut dan cenderung lepas dari nilai spiritualitasnya. Apalagi ketika pada tahun 1990-an, dreadlocks mewarnai penampilan para musisi rock dan menjadi bagian dari fashion dunia. Dreadlock yang biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk terbentuk, sejak saat itu bisa dibuat oleh salon-salon rambut hanya dalam lima jam! Aneka gaya dreadlock pun ditawarkan, termasuk rambut aneka warna dan “dread perms” alias gaya dreadlock yang permanen.

Meski cenderung lebih identik dengan fashion, secara mendasar dreadlock tetap menjadi bentuk ungkap semangat anti kekerasan, anti kemapanan dan solidaritas untuk kalangan minoritas tertindas.


Published with Blogger-droid v2.0.4
[Read more]